Latar belakang pendirian

SMA Kristen Makale adalah sekolah menengah atas swasta yang tumbuh dan berkembang di jantung kota Makale, Tana Toraja. Sekolah ini didirikan oleh Gereja Toraja melalui Yayasan Perguruan Kristen Toraja (YPKT) untuk memenuhi kerinduan warga gereja dan masyarakat Makale akan pendidikan lanjutan tingkat atas yang bersifat umum.

Cikal bakalnya adalah SMA Kristen Rantepao cabang Makale yang dibuka pada 1978. Kelas cabang ini segera mendapat perhatian dan sambutan masyarakat sekitar. Selama tiga tahun sekolah berafiliasi dengan SMA Kristen Rantepao, dan pada 1981 berdiri sendiri sebagai sekolah mandiri dengan nama SMA Kristen Makale.

Akar pendidikan Kristen di Toraja

Makale mulai mengenal pendidikan sejak 1908, ketika pemerintah kolonial membuka sekolah Landschap. Pada 1913, A.A. van de Loosdrecht diutus Gereformeerde Zendingsbond (GZB) dari Belanda dan tiba di Rantepao pada 10 November. Ia membawa misi pekabaran Injil sambil membuka sekolah di berbagai tempat, hingga wafat pada 1917. Dalam sejarah pendidikan di Toraja, ia dikenal sebagai pionir pendidikan Kristen.

GZB menjalankan misinya melalui tiga bidang pelayanan: berkhotbah (preaching), kesehatan (healing), termasuk membuka Rumah Sakit Elim Rantepao pada 1920, dan pendidikan (teaching). Pada 1938, saat 25 tahun Injil masuk Toraja, terdapat 79 sekolah Kristen dengan 8.069 murid dan 178 guru; 27 sekolah dasar di antaranya berada di wilayah Makale.

Dari Gereja Toraja ke YPKT

Gereja Toraja berdiri pada 25 Maret 1947, dan pengelolaan sekolah-sekolah yang dibuka GZB diserahkan kepadanya. Pada 28 Mei 1954, Gereja Toraja membentuk Yayasan Perguruan Kristen Toraja (YPKT) untuk mengelola dan mengembangkan pendidikan tersebut.

Setelah 1960-an, YPKT membuka sejumlah sekolah lanjutan tingkat atas, antara lain SMA Kristen Rantepao (1963) dan STM Kristen Rantepao (1964). Pada 1967, sekolah yang diselenggarakan Gereja Toraja melalui YPKT mencapai 171 SD, 29 SLTP, 6 SLTA, dan satu perguruan tinggi. Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang bercirikan keagamaan terus tumbuh, termasuk dengan dibukanya SMA Kristen Makale.

Sarana dan perkembangan

Sekolah berdiri di atas tanah seluas sekitar 2.833 m² milik Gereja Toraja yang diserahkan kepada YPKT. Pada 2014 dibangun gedung tiga lantai seluas 1.183 m², dilengkapi ruang kelas, perpustakaan, ruang guru, ruang kepala sekolah, laboratorium, ruang komputer, dan ruang keterampilan.

Perjalanan sekolah tidak selalu mudah. Ada masa ketika jumlah siswa baru terbatas, karena biaya operasional sebagian besar bergantung pada biaya pendidikan siswa. Meski begitu, hingga akhir tahun pelajaran 2019/2020 sekolah telah meluluskan 5.144 siswa yang mampu bersaing masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta di berbagai tempat di Indonesia.

Pusat pembentukan kader

Tujuan pendidikan Kristen adalah membimbing anak didik menjadi “a man for God in society”, manusia pengabdi Allah di tengah masyarakat. Sebagai sekolah yang bercirikan Kristen di pusat Tana Toraja, SMA Kristen Makale diharapkan terus menjadi tempat persemaian yang subur bagi Injil, dan mengalirkan generasi muda yang menjadi pilar kekuatan gereja, daerah, dan bangsa.

Sumber: Disarikan dari “Mengenal Lebih Dekat SMA Kristen Makale”, disusun oleh Drs. Herman Kandari, M.Pd., Makale, Maret 2020.

Ingin bergabung bersama kami?

Pendaftaran siswa baru dilakukan online dari HP. Tata usaha siap membantu bila ada pertanyaan.